SEKILAS INFO
: - Minggu, 17-10-2021
  • 8 bulan yang lalu / Penerimaan Pserta Didik Baru (PPDB) gelombang I : 15 Maret-10 April 2021
  • 8 bulan yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) gelombang II : 21 Mei-31Juni 2021
MENGANGKAT KARUNGUT DALAM REFORMASI MORAL BANGSA

Oleh : Muhammad Tata Awaludin

Latar belakang

Pada abad ke 21 ini, Indonesia sebagai negara yang memiliki lebih kurang 17.000 pulau. Pasti memiliki banyak warisan baik kebudayaan maupun kearifan lokal. Dalam dunia yang lebih majemuk dan modern ini, seiring dengan pesatnya globalisasi yang mengubah pola pikir masyarakat Indonesia terlebih, bagi para kaum muda menuju peradaban yang lebih moderen dan instan maka kebudayaan tradsional kini mulai tenggelam dan terdegradasi. Munculnya kesenian-kesenian baru yang trending seiring dengan kemajuan zaman dan minat masyarakat yang majemuk akibat pengaruh gobalisasi yang tercampur kedalam segala wujud budaya mempengaruhi pola pikir masyarakat, yang pada akhirnya globalisasi itu mempengaruhi moral bangsa.

Dasarnya, karungut mempunyai esensi yang kuat terhadap masyarakat karena sebagai tuntunan dalam keseharian masyarakat, sehingga karungut mempunyai pengaruh pada masyarakat. Namun banyak para pemuda yang tidak kenal akan budaya ini yang sarat makna, yang sudah teralihkan dengan kesenian modern. 

Maka dari itu untuk menjaga kelestarian dan keutuhan dari kesenian karungut diperlukannya para pemuda bangsa yang berkarakter inovatif pada warisan leluhur sangat urgent untuk diimplementasikan. Kesenian-kesenian tradisional harus mampu bertahan dengan cara melakukan adaptasi melalui hibriditas ataupun akulturasi kebudayaan untuk menjaga eksistensinya, sekaligus mereformasi moral.

Mengintip masyarakat urban terkhusus juga para pemuda yang mempunyai ketertarikan terhadap musik-musik koplo maka hal ini merupakan hal yang tepat utuk menjadikan karungut sebagai trending topik dalam dunia modern. Hal ini dimaksudkan sebagai bukti inovasi untuk pelestarian kesenian daerah.

Hibriditas karungut dan koplo dalam membentuk moral bangsa 

Pada zaman ini banyak jenis aliran musik yang bertaburan di Indonesia. Para pemuda kita banyak lebih nyaman mendengar musik koplo ketimbang lagu daerah, konstelasi tersebut dibuktikan dengan berlomba-lombanya para musisi yang mengcover lagu bergenre koplo.  Diadopsi sedemikian rupa dan dipadukan dengan unsur musik koplo dari pemukulan gendang, cengkok suara dan yang lain. 

Karungut merupakan suatu kesenian musik asli dari suku Dayak yang cara memainkannya dengan kecapi oleh satu orang biasanya, sedangkan esensinya tidak hanya sebagai hiburan musik saja tapi didalamnya penuh akan pesan moral, nasehat, dan teguran. Awalnya karungut adalah suatu lagu penghibur diwaktu senggang saat masyarakat ramai-ramai berkumpul, di zaman nenek moyang suku dayak. Definisi karungut adalah suatu cerita(sejarah) yang dilagukan menurut Ketua Adat Dayak wilayah Baamang Marsidi Ajril. Eksistensi karungut saat ini mulai menurun karena adanya faktor globalisasi dan para pemuda lebih nyaman mendengar lagu yang menarik.

Musik koplo atau dikenal juga Dangdut koplo adalah sebuah sub aliran dalam musik dangdut. Dengan ciri khas irama yang cepat dari gendangnya. Aliran ini dipopulerkan oleh grup musik orkes melayu. Pada era tahun 2000-an seiring dengan kejenuhan musik dangdut yang asli, maka di awal era ini musisi di wilayah Jawa Timur di daerah pesisir Pantura mulai mengembangkan jenis musik dangdut baru yang disebut dengan musik koplo. Musik koplo merupakan mutasi dari musik dangdut yang bertambah kental irama tradisionalnya ditambah dengan masuknya unsur seni musik kendang kempul yang merupakan seni musik dari daerah Banyuwangi (Jawa Timur) dan irama tradisional lainya seperti jaranan dan gamelan. Salah satu hal yang membuat genre ini sukses dalam memperlebar daerah ‘kekuasannya’ adalah vcd bajakan yang begitu mudah dan murah didapatkan masyarakat sebagai ‘alternatif’ hiburan masyarakat dari vcd/dvd original artis-artis/selebriti nasional yang dinilai mahal. Kesuksesan vcd bajakan tersebut juga dibarengi dengan fenomena “goyang ngebor” Inul Daratista. Fenomena itulah yang sebenarnya membuat popularitas Dangdut Koplo semakin meningkat di Indonesia. Apalagi setelah goyang ngebor inul itu tercium oleh beberapa media-media televisi swasta nasional. Oleh karenanya, masyarakat Indonesia semakin mengenal Dangdut Koplo dan seiring berjalannya waktu makin banyak lagi lagu lagu koplo bahkan ada lagu yang dicover dengan koplo yang makin digandrungi pemuda bangsa baik bertemakan romance atau yang lain.

Seiring dengan progresnya globalisasi, hal buruk pasti masuk yang membuat moral bangsa saat ini sangat menurun. Degradasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penurunah atau kemerosotan atau kemunduran. Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai sikap perbuatan dan akhlak.

Dari hasil social experiment yang peneliti lakukan terhadap 30 orang keturunan suku Dayak di kota Sampit, 50% mereka menjawab tidak tahu apa itu karungut, dan 40% mereka menjawab tahu apa itu karungut namun tingkat mendengarkan karungut hanya sekitar satu tahun satu kali dan itu cuma saat ada Sampit EXPO atau event kesenian lain, sedangkan 10% dari mereka tau apa itu karungut dan tingkat mendengarkannya satu tahun dua puluh kali dan faktor yang mendukung mereka adalah mereka keturunan asli suku Dayak dan mereka lebih suka mendengarkan lagu yang bergenre koplo. Degradasi yang mengecewakan lagi saat social experiment adalah banyak pemuda yang mengeluarkan kata-kata yang berkonotasi kotor saat berselancar di jejaring sosial.

Peran pemuda dalam pelestarian karungut untuk membentuk moral

Untuk apa kesenian karungut ini harus dilestarikan? hal ini yang sering ditanyakan para anak bangsa, mereka berargumen kalau kita sudah ada lagu yang nyaman tuk didengarkan dan kami sulit memahami Bahasa Dayak dan Masyarakat urban juga bersugesti bahwa moderenitas adalah jantung dari sebuah peradaban maju. Kebudayaan tradisional dianggap ketinggalan zaman dan mulai dilupakan berganti dengan hal yang lebih trending dan menyenangkan. Berdasarkan asumsi dan argumen ini lah yang menjadi faktor kalau hasil sosial experiment bisa sangat mengecewakan bagi para pemuda dan terkhusus pemuda Dayak sendiri. Hanya profane yang mereka anggap lebih menyenangkan tuk didengarkan, dan peran pemudalah untuk menjawab pertanyaan itu adalah, karena karungut itu sebuah kebudayaan yang kental akan makna, nasihat, teguran. Karena karungut dapat membentuk moral bangsa yang sedang terkikis seperti maraknya kata-kata berkonotasi kotor dan pelesetanya yang menjadi hal wajar.

Menilik data diatas bahwa koplo semakin berintegrasi dengan masyarakat secara implisit integritas tersebut membentuk sebuah jalur dan arah yang diacu oleh khalayak umum. Kebahasaan yang terbentuk berdasarkan kuantitas dan frekuensi tinggi menjadikan potensi peneriman semakin besar. Proses resesi oleh para pendengar tidak akan sulit dibandingkan dengan kesenian yang jarang bahkan asing tuk didengar. Padahal ini yang diacu oleh data diatas yang kondisinya sedang naik daun, musik karungut dapat diaransemen ke koplo mempermudah dikenang dan terus dinyanyikan oleh masyarakat saat ini.

Bukti peran pemuda memberikan trobosan dalam melestarikannya ialah ‘Karungut Koplo’. Dalam penyampaiannya pada masyarakat karungut koplo menggunakan dua bahasa yaitu: bahasa Dayak dan Bahasa Indonesia, diiringi petikkan kecapi dan tabuhan gendang koplo yang pelan saat karungut dinyanyikan dengan bahasa dayak, dan saat dinyanyikan dengan bahasa indonesia tabuhan gendang ala koplo yang lebih mendominasi. Inisiatif ini diambil dengan mengharap nilai keaslianya tetap terjaga dan karungut bisa bertahan ditengah moderenisasi, juga agar masyarakat dapat merenungi serta melakukan arti dari syair karungut dalam kehidupan. Karungut koplo mainnya disesuaikan dengan isu-isu hangat dalam ranah politik, sosial dan budaya dan disesuaikan dengan isu terkait masalah-masalah yang menjadi perbincangan pada khalayak umum. Contoh penggalan karungut  Karungut Anak Sakulah 

Tau kasene je buah sala

Itah sakula je ela nakal 

Ela melawan guru je ngajar 

Artinya 

Dapat mengetahui yang benar dan yang salah 

Kita sekolah jangan nakal 

Jangan melawan guru yang mengajar 

Pada penggalan karungut diatas kita dapat memetik salah satu makna yaitu: dapat mengetahui yang benar dan yang salah, ucapan toxic merupakan perbuatan yang salah apalagi sampai diucapkan didepan orang tua, dan hal ini harus segera dikikis. Dengan adanya hibridasi kesenian tidak ada kata bosan, ketinggalan zaman, atau kampungan pada nilai budaya lama. Budaya bisa berkolaborasi dalam menjaga kelestariannya dan dengan adanya arti pada karungut kita dapat mengambil moralnya tuk merevolusi karakter masyarakat yang tidak suka toxic, ditengah kemajemukan modernitas yang semakin progresif.

Kesimpulan 

Karungut merupakan suatu kesenian asli suku Dayak yang dapat diakulturasikan dengan kesenian koplo. Karungut koplo merupakan media kesenian yang turut andil dalam mereformasi moral bangsa dari lajunya arus globalisasi yang mempengaruhi moral. Dengan tetap menjaga keaslian kedua budaya yang dilebur agar penyampaiannya lebih efektif dan masyarakat lebih paham esensi yang disampaikan. Sehingga moral masyarakat uraban Indonesia tetap terakomodir juga tetap melestarikan warisan leluhur.

TINGGALKAN KOMENTAR